BANGKA BARAT – Seorang nelayan asal Desa Cupat, Kecamatan Parittiga, Kabupaten Bangka Barat, dilaporkan belum kembali setelah pergi melaut ke kawasan Perairan Teluk Limau. Hingga Selasa (6/10/2026) dini hari, keberadaan nelayan tersebut belum diketahui sehingga tim SAR gabungan dikerahkan untuk melakukan pencarian.
Nelayan bernama Kepri Sandi (35) itu dilaporkan hilang kontak saat melaut di sekitar Perairan Siangau Pala, Teluk Limau, Kecamatan Parittiga. Kepri diketahui menggunakan perahu fiber bernama Arjuna – Amora dengan panjang sekitar 8 meter, berwarna biru dengan lis kuning.
Informasi mengenai hilangnya Kepri diterima Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Pangkalpinang setelah keluarga korban melaporkan bahwa korban tidak kunjung pulang.
Kepri berangkat melaut pada Minggu (4/10/2026) sekitar pukul 17.00 WIB. Tujuannya menuju lokasi pemancingan atau fishing ground di perairan Teluk Limau.
Biasanya, korban telah kembali pada pagi hari setelah melaut. Namun hingga Selasa dini hari, Kepri belum juga pulang. Keluarga bersama sejumlah nelayan setempat sempat melakukan pencarian secara mandiri, tetapi upaya tersebut belum menemukan keberadaan korban.
Kepala Kantor SAR Pangkalpinang, Mikel Rahman Junika, membenarkan adanya laporan nelayan yang hilang kontak di perairan Bangka Barat tersebut.
“Kami menerima laporan awal pada Selasa dini hari sekitar pukul 00.50 WIB dari keluarga korban. Menindaklanjuti informasi tersebut, kami langsung merespons cepat (quick action) dengan memberangkatkan tim rescue dari Unit Siaga SAR Mentok menuju lokasi kejadian untuk melakukan operasi pencarian,” ujar Mikel.
Tim SAR gabungan kemudian bergerak menuju titik yang diperkirakan menjadi lokasi terakhir korban diketahui atau Last Known Position (LKP). Pencarian dilakukan dengan melibatkan personel Basarnas bersama keluarga korban.
Pada operasi SAR hari pertama, tim melakukan penyisiran di wilayah perairan yang diperkirakan berkaitan dengan lokasi hilangnya nelayan tersebut.
“Pada operasi SAR hari pertama ini, tim SAR gabungan menyisir area perairan seluas 15 mil laut persegi (nautical miles square) menggunakan metode parallel search pattern dengan sarana utama satu unit rubber boat Basarnas. Pencarian kita fokuskan pada pemantauan visual di atas permukaan air. Semoga korban dapat dengan segera ditemukan,” jelas Mikel.















