PANGKALPINANG – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memasuki fase yang perlu diwaspadai. Memasuki musim kemarau, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan karena sejumlah wilayah sudah mencatat puluhan kejadian kebakaran dengan luasan lahan yang terus bertambah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengingatkan kondisi cuaca pada Juli 2026 membuat risiko karhutla berada pada kategori tinggi. Fenomena El Nino yang masih memengaruhi wilayah Babel, dipadukan dengan kondisi cuaca yang tidak menentu, dinilai berpotensi memicu munculnya titik-titik kebakaran di berbagai daerah.
Plt Kepala BPBD Kepulauan Bangka Belitung, Agus Afandi, mengatakan kondisi cuaca saat ini memang cukup unik. Di satu sisi suhu udara meningkat akibat pengaruh El Nino, namun di sisi lain masih terdapat potensi hujan.
“Kondisi kita pada bulan Juli ini memang punya risiko tinggi untuk karhutla. Namun, di sisi lain kita juga masih punya potensi hujan. Jadi selain panas pengaruh El Nino, tiba-tiba bisa turun hujan seperti yang terjadi malam tadi,” ujarnya dikutip dari RRI.co.id, Jumat (24/7/2026).
BPBD mencatat, sepanjang Juni hingga Juli 2026 telah terjadi 42 peristiwa kebakaran hutan dan lahan dengan total luasan lahan terdampak mencapai sekitar 82 hektare. Sejumlah titik bahkan mengalami kebakaran berulang sehingga menjadi perhatian khusus dalam upaya mitigasi.
Berdasarkan pemetaan hotspot serta hasil pemantauan di lapangan, kawasan pesisir barat Pulau Bangka menjadi daerah dengan tingkat kerawanan paling tinggi terhadap karhutla.
“Daerah yang paling banyak terdata terjadi karhutla itu berada di pesisir barat. Jalurnya mulai dari Mentok, tembus ke bawah menuju Tempilang, hingga ke arah Permis dan Gusung,” katanya.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pangkalpinang memprediksi musim kemarau tahun ini akan berlangsung lebih panjang karena peluang terjadinya fenomena El Nino masih cukup besar hingga awal 2027.
















