BANGKA BARAT – Peringatan Hari Jadi Kota Mentok ke-292 tidak selalu harus diisi dengan pesta. Di Mentok, momentum tersebut justru dimaknai dengan ziarah dan doa untuk mengenang para pendiri serta pemimpin awal kota.
Kegiatan yang digagas Perkumpulan Daon Sempor itu berlangsung di kompleks pemakaman Keramat, Kute Seribu, Mentok, Senin (7/9/2026). Puluhan warga lintas usia datang untuk menaburkan bunga dan memanjatkan doa di makam sejumlah tokoh pendiri serta pemimpin Mentok.
Ketua Daon Sempor, Silo Sandro, mengatakan usia 292 tahun menjadi momentum untuk kembali mengingat akar sejarah dan berbagai kebaikan yang diwariskan para pendahulu.
Menurutnya, Mentok telah menjadi tempat bagi banyak orang untuk tumbuh, menjalani kehidupan hingga membangun masa depan. Karena itu, nilai-nilai baik dari para pendiri perlu terus dijaga dan diteruskan.
Sementara itu, Wakil Ketua Daon Sempor Bayu Itra menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga warisan sejarah dan identitas Kota Mentok.
“Kita sudah mewarisi banyak hal dari kota ini. Kepusakaannya yang hadir dalam bentuk nikmat hidup bertoleransi, budaya yang kuat, akulturasi, dan lainnya. sebagai pewaris, mari kenali kekayaan kita ini. tugas kita menjaganya dan mewariskannya kembali ke generasi berikutnya,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, warga berziarah ke makam Wan Abdul Jabar, Wan Akub, Wan Serin, Abang Pahang, Abang Ismail, dan Abang Toyib. Selain doa dan tabur bunga, peserta juga menyimak kisah mengenai kehidupan serta dedikasi para tokoh tersebut bagi Kota Mentok.
Hari Jadi Kota Mentok ditetapkan setiap 7 September berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Bangka Barat Nomor 1 Tahun 2023. Tanggal 7 September 1734 Masehi menjadi momentum yang ditetapkan sebagai hari jadi kota tersebut.
Daon Sempor memilih mengisi peringatan tahun ini dengan kegiatan sederhana. Pesannya, mengenal sejarah bukan sekadar melihat masa lalu, tetapi menjadi pijakan untuk menjaga identitas Mentok dan menentukan arah kehidupan kota ke depan.















