Menurut dia, seni dan budaya dapat menjadi salah satu bagian dari strategi pengembangan Bangka Barat sebagai destinasi wisata budaya dan ekonomi kreatif.
Bangka Barat memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan untuk mendukung sektor pariwisata, mulai dari wisata sejarah, budaya, alam hingga kuliner.
“Melalui seni tari, kita tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga mempromosikan Bangka Barat sebagai daerah yang kaya budaya dan memiliki daya tarik pariwisata. Ini potensi besar yang harus terus dikembangkan,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Markus juga mengapresiasi Yayasan Seni Seruni Production bersama seluruh peserta didik yang telah mengikuti festival. Ia menyebut semangat para peserta menjadi salah satu indikator bahwa regenerasi seni di Bangka Barat masih terus berjalan.
Selain peserta dari Bangka Barat, Seruni Art Festival III juga diikuti 20 peserta dari Pulau Belitung. Kehadiran peserta lintas wilayah tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam memperluas jejaring seni dan budaya di Kepulauan Bangka Belitung.
“Kegiatan ini menunjukkan bahwa seni budaya mampu menyatukan kita lintas wilayah, memperkuat persaudaraan, dan memperluas jangkauan pariwisata budaya di Kepulauan Bangka Belitung,” ujar Markus.
Pelaksanaan festival di Museum Timah Indonesia Mentok juga dinilai memiliki nilai strategis karena mempertemukan kegiatan seni dengan kawasan yang memiliki nilai sejarah dan budaya. Hal tersebut sekaligus mendukung upaya mengintegrasikan warisan sejarah dengan pengembangan pariwisata di Bangka Barat.
Markus berharap festival seni tidak berhenti sebagai agenda pertunjukan, tetapi dapat menjadi ruang pembinaan yang berkelanjutan bagi generasi muda.
“Saya berharap anak-anak muda Bangka Barat terus berani tampil, berkreasi, dan berinovasi. Jadikan seni dan budaya sebagai jembatan untuk membawa nama Bangka Barat dikenal lebih luas,” tuturnya.














