BANGKA BARAT – Kabupaten Bangka Barat mencatatkan inflasi year on year (y-on-y) sebesar 5,36 persen pada Januari 2026. Angka ini menunjukkan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 106,36.
Tekanan inflasi tersebut terutama dipengaruhi oleh melonjaknya harga pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mengalami kenaikan signifikan hingga 22,64 persen. Kenaikan tarif listrik tercatat menjadi faktor dominan yang mendorong lonjakan inflasi di kelompok ini.
Selain sektor perumahan dan energi, inflasi juga terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 5,18 persen. Sejumlah komoditas pangan seperti beras, ikan, udang, daging ayam ras, serta aneka sayuran ikut memberikan andil terhadap kenaikan harga.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami inflasi cukup tinggi, yakni 14,28 persen, dipicu antara lain oleh kenaikan harga emas perhiasan.
Di sisi lain, tidak semua kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga. Kelompok pendidikan justru mencatat deflasi terdalam secara tahunan sebesar 13,61 persen.
Deflasi juga terjadi pada kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,11 persen, serta perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,29 persen.
Sementara itu, secara bulanan (month to month/m-to-m), inflasi Bangka Barat pada Januari 2026 tercatat sebesar 0,36 persen. Angka yang sama juga terjadi pada inflasi year to date (y-to-d), menandakan adanya kenaikan harga sejak awal tahun yang relatif moderat namun konsisten.
Berdasarkan catatan statistik, inflasi Januari 2026 menjadi yang tertinggi dalam periode Januari 2025 hingga Januari 2026. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya tekanan harga di Bangka Barat, terutama yang bersumber dari sektor kebutuhan dasar dan energi, sehingga menjadi perhatian penting bagi pengendalian inflasi daerah ke depan.
















