BANGKA BARAT – Memasuki masa peralihan cuaca, Kabupaten Bangka Barat mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan menuju musim kemarau 2026. Meski hujan masih kerap terjadi di sejumlah wilayah, kondisi ini disebut sebagai fase awal pergeseran musim yang perlu diwaspadai masyarakat sejak dini.
BPBD Bangka Barat terus memantau perkembangan cuaca dengan mengacu pada data resmi dari BMKG. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mitigasi risiko bencana yang berpotensi muncul selama masa transisi hingga puncak kemarau.
“Terkait kondisi cuaca kita sumber utama kita mamantau melalui BMKG. Kami mengikuti BMKG kami support kesiapsagaan dalam mengantisipasi (cuaca) basah ataupun kering,” ujar Kepala BPBD Bangka Barat, Safrizal, Selasa (14/4/2026).
Ia menjelaskan, saat ini kondisi cuaca memang terbilang unik karena secara meteorologis sudah memasuki fase kering, namun hujan masih terjadi di beberapa waktu.
“Kita harus siap siaga. memang agak berbeda dengan kondisi yang ada. Kita sudah masuk kondisi meteorologi kering, tapi masih ada hujan dan segala macam. Ini masih tahap awal perubahan (musim) pancarobanya,” katanya.
Berdasarkan prediksi BMKG, puncak musim kemarau di Bangka Barat diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk mulai melakukan langkah antisipatif sejak sekarang.
“Sesuai dengan prediksi BMKG puncaknya itu pada Agustus kemaraunya. Artinya kita harus siap siaga mulai dari sekarang, yang sudah mulai melihat potensi yang ada seperti air baku, kemudian kita juga harus mulai berhemat menggunakan air baku sendiri, yang berikutnya jangan lagi sembarang melakukan pembakaran,” tuturnya.
Selain potensi kekeringan, BPBD juga mengingatkan adanya risiko cuaca ekstrem yang masih bisa terjadi selama masa peralihan musim. Safrizal menyebutkan bahwa kejadian cuaca ekstrem sempat terjadi di wilayah Kelapa.















