BANGKA BARAT – Bupati Bangka Barat Markus memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan pesta adat Rabun Pusaka yang digelar Setana Jerieng Amantubillah, Desa Pelangas, Kecamatan Simpang Teritip, Kabupaten Bangka Barat, Rabu (9/9/2026).
Menurut Markus, tradisi adat yang masih dijalankan masyarakat Suku Jerieng tersebut memiliki peran penting dalam menjaga warisan budaya sekaligus mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal di Kabupaten Bangka Barat.
“Kami Pemkab Bangka Barat sangat mengapresiasi ritual adat ini. Saya minta kepada generasi setelah pak Sardi ada yang mengganti dan meneruskan” kata Markus.
Ia menjelaskan, pelaksanaan pesta adat tersebut merupakan hasil musyawarah adat para Datuk dari Lembaga Adat Melayu Jerieng. Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya melestarikan tradisi, mempertahankan nilai budaya, sekaligus memberdayakan kebudayaan masyarakat lokal di Setana Jerieng.
“Acara ini diselenggarakan berdasarkan musyawarah adat para datuk dari Lembaga Adat Melayu Jerieng guna melestarikan tradisi, mempertahankan nilai-nilai budaya, dan memberdayakan kebudayaan masyarakat lokal di Setana Jerieng, agar tradisi ini dapat dipertahankan dan dikembangkan sebagai bentuk keragaman budaya di Kabupaten Bangka Barat,” ujarnya.
Selain Bupati Bangka Barat Markus, kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bangka Barat Muhammad Ali bersama sejumlah tamu undangan lainnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan dan arak-arakan yang menampilkan pertunjukan silat. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan Rabun Pusaka, pemberian penghargaan atau anugerah Datuk, sambutan, serta ditutup dengan makan bersama secara bedulang.
Ketua Lembaga Adat Melayu Jerieng Pelangas, Sardi Alpalangasi, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan pesta adat tersebut.
“Tradisi ini seperti rabun pusaka merupakan tradisi adat istiadat Suku Jerieng yang diwariskan turun-temurun dari nenek moyang dan kita terus melestarikannya. Kita mengucapkan terimakasih untuk semua pihak yang mendukung” ujar Sardi Alpalangasi.











