Gong Xi Fa Chai
Bangka Barat

5.595 Warga Bangka Barat Masih Berstatus Pengangguran

×

5.595 Warga Bangka Barat Masih Berstatus Pengangguran

Sebarkan artikel ini
Bazar dan operasi pasar murah Kodim 0431/Babar diserbu warga. Foto: Istimewa.
Bazar dan operasi pasar murah Kodim 0431/Babar diserbu warga. Foto: Istimewa.

BANGKA BARAT – Persoalan pengangguran masih menjadi tantangan serius di Kabupaten Bangka Barat. Berdasarkan data terbaru yang masih mengacu pada Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, tercatat sebanyak 5.595 orang di daerah tersebut belum memiliki pekerjaan.

Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kabupaten Bangka Barat menyatakan hingga saat ini belum menerima data resmi mengenai angka pengangguran tahun 2025. Karena itu, jumlah pengangguran terbaru belum dapat dipastikan apakah mengalami peningkatan atau justru menurun.

APPLY
Terdepan Menyorot Fakta.
Scroll kebawah untuk lihat konten

Fungsional Pengantar Kerja Disperinaker Bangka Barat, Dandon Anggono Putro, mengatakan pihaknya masih menunggu rilis resmi dari BPS Bangka Barat terkait kondisi ketenagakerjaan tahun ini.

“Kami masih menggunakan sumber data dari BPS Bangka Barat dan saat ini masih data 2024. Untuk angka pengangguran ada 5.595 orang,” ungkap Dandon pada Senin, 11 Mei 2026.

Menurut Dandon, proses pengolahan data oleh BPS masih berlangsung sehingga Disperinaker belum dapat melakukan evaluasi lebih jauh mengenai perkembangan angka pengangguran di Bangka Barat.

“Untuk data pengangguran 2025 belum diterbitkan dari BPS. Kami masih menunggu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, mayoritas pengangguran di Bangka Barat berasal dari kelompok usia produktif. Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya jumlah lulusan SMA sederajat hingga perguruan tinggi setiap tahun, sementara ketersediaan lapangan kerja belum mampu menyerap seluruh tenaga kerja baru.

“Faktor pengangguran ini salah satunya adanya peningkatan kelulusan anak sekolah SMA sederajat hingga kuliah,” katanya.

Selain itu, keterbatasan lapangan kerja di Bangka Barat juga menjadi faktor utama tingginya angka pengangguran. Sebagian besar peluang kerja yang tersedia masih terbatas, sementara kebutuhan industri terhadap tenaga kerja dengan keterampilan khusus terus meningkat.

Dandon menilai masih banyak pencari kerja yang belum memiliki kompetensi yang memadai, sehingga kalah bersaing dengan tenaga kerja dari luar daerah.

“Rata-rata pencari kerja belum membekali diri dengan keterampilan sehingga kalah saing dengan daerah lain. Makanya, kami membuka balai pelatihan kerja,” tukasnya.

error: