<
BALEHO marhaban ya ramahdan 2026 ( 4 x 6)
BALEHO IMLEK 2026 ( 4 X 6)
Bangka BaratLokal

Berkah Penambangan Timah di Perairan Tembelok-Keranggan Bagi Masyarakat

×

Berkah Penambangan Timah di Perairan Tembelok-Keranggan Bagi Masyarakat

Sebarkan artikel ini

BANGKA BARAT, SOROTANBANGKA.COM – Penambangan timah menggunakan TI Apung di wilayah perairan Tembelok – Keranggan, Kecamatan Mentok yang dibuka kembali baru-baru ini menjadi sorotan pemberitaan media.

Pantauan di lapangan, Jumat (27/9) petang, nampak sekitar puluhan ponton TI Apung sedang beraktivitas menambang timah di perairan itu. Perahu dan speed lidah bolak-balik antar jemput penambang dan panitia ke dari ponton ke pantai dan sebaliknya.

APPLY
Sorotan Bangka - Terdepan Menyorot Fakta.
Scroll kebawah untuk lihat konten

Belasan pondok pedagang aneka makanan dan minuman juga berjejer di tepian pantai. Banyak juga yang berjualan makanan pakai motor. Ratusan unit sepeda motor dan puluhan mobil juga memadati area parkir yang telah ditentukan oleh panitia.

80% Warga Tembelok – Keranggan Hidup Dari Hasil Laut

Ketua DPC HNSI Kabupaten Bangka Barat, Fadli, mengungkapkan sekitar 80% warga Tembelok – Keranggan hidup dari hasil laut sebagai nelayan. Hanya saja, saat ini hasil melaut sangat jauh berkurang. Kadang antara hasil dengan biaya yang dikeluarkan tidak sebanding.

“Dengan dibukanya TI Apung ini nelayan dan warga sini sangat terbantu. Semuanya kompak, di sinilah nelayan dan masyarakat menyatu,” ungkap pria yang akrab disapa Ali itu.

Dikatakannya, meskipun TI Apung itu bekerja secara ilegal, namun wilayah yang ditambang bukan kawasan terlarang, bukan IUP perusahaan manapun dan juga bukan objek vital nasional.

“Penambangan timah di perairan Tembelok – Keranggan itu kan hanya persoalan regulasi saja, tidak ada pihak manapun yang dirugikan,” ungkap dia.

Situasi Kamtibmas Kondusif

Ali menyayangkan adanya pihak yang mempersoalkan penambangan timah di wilayah perairan Tembelok-Keranggan.

Menurutnya, kondisi penambangan timah di perairan Tembelok – Keranggan sangat kondusif. Tidak ada gejolak atau pun gerakan penolakan dari nelayan atau masyarakat sekitar. Penambangan timah di wilayah itu juga telah memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Situasi di Tembelok – Keranggan ini kondusif. Kami tidak mau seperti tikus yang mati di lumbung padi. Daerah kita punya kekayaan alam, mengapa kami tidak boleh menikmatinya? Lagian tambang timah secara ilegal itu bukan hanya di Bangka Barat, kenapa hanya Keranggan saja yang disorot? Banyak juga tambang ilegal di tempat lain,” katanya.

Warga Parittiga diserang Buaya. Foto: Istimewa.
Bangka Barat

Warga Bangka Barat Diserang Buaya, Polisi Minta Warga Waspada di Kolong Eks Tambang

Seorang warga Desa Sekar Biru, Kecamatan Parittiga, Kabupaten Bangka Barat, diserang seekor buaya saat melintas di pinggir kolong bekas tambang, Selasa (10/2/2026) dini hari.

Peristiwa ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat agar lebih waspada terhadap potensi ancaman satwa liar di sekitar permukiman.

Korban diketahui bernama Karmin (49), warga Dusun Perumnas, Desa Sekar Biru. Ia diserang buaya sekitar pukul 02.50 WIB saat berjalan tidak jauh dari rumahnya.

“Buaya tersebut sudah berada di darat dan langsung menggigit kaki korban. Beruntung korban berhasil melawan menggunakan kayu hingga terlepas, lalu menyelamatkan diri,” kata Kasi Humas Polres Bangka Barat Iptu Yos Sudarso, Selasa.

Akibat kejadian itu, korban mengalami luka pada bagian kaki. Sekitar pukul 03.00 WIB, korban menghubungi petugas Polsek Jebus untuk meminta pertolongan. Polisi yang tiba di lokasi tidak lagi menemukan buaya tersebut dan langsung mengevakuasi korban ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan medis.

“Korban telah mendapatkan penanganan medis dan saat ini sudah kembali ke rumah,” ujar Yos.

Polisi menilai kejadian ini menunjukkan bahwa buaya di kolong bekas tambang tersebut berpotensi masuk ke wilayah permukiman warga dan menimbulkan ancaman serius jika tidak segera ditangani.

Polisi Ambil Langkah Antisipasi
Menindaklanjuti peristiwa tersebut, Kapolres Bangka Barat AKBP Pradana Aditya Nugraha, S.H., S.I.K., melalui Kasi Humas, menyatakan pihaknya telah menginstruksikan jajaran untuk mengambil langkah cepat dan terukur.

“Polres Bangka Barat langsung memberikan arahan kepada para Kapolsek jajaran agar melakukan pemetaan lokasi rawan serangan satwa liar, memasang spanduk peringatan, serta memberikan imbauan langsung kepada masyarakat,” tegas Yos.

Selain itu, Polres Bangka Barat juga mendorong pemerintah desa untuk segera berkoordinasi dengan BKSDA dan DLHK Kabupaten Bangka Barat guna menangkap dan memindahkan buaya ke tempat penangkaran, demi mencegah kejadian serupa terulang.

Kasat Polair dan Polsek jajaran juga diminta aktif melakukan pemantauan di wilayah perairan dan kolong eks tambang yang berdekatan dengan pemukiman.
Imbauan Kepada Masyarakat
Polres Bangka Barat mengimbau masyarakat agar

Tidak beraktivitas di sekitar kolong eks tambang, terutama pada malam dan dini hari;
Tidak mandi, mencuci, atau memancing di lokasi yang berpotensi menjadi habitat buaya;
Segera melapor kepada pihak kepolisian jika melihat keberadaan buaya atau satwa liar berbahaya lainnya.

“Keselamatan warga adalah prioritas. Kami mengajak masyarakat untuk lebih waspada dan tidak menganggap remeh potensi bahaya dari satwa liar,” pungkas Yos.

error: