“Yang punya live music. Jadi kayak wah pokoknya 400 kan mahal ya, makan makanan di Jaksel ini kan mahal banget ya,” tambah Shabrina.
Kenriz pun sepakat dengan pernyataan Shabrina. Baginya, sebagai orang yang hidup di perantauan sepertinya, harga seperti itu cukup mahal. Shabrina pun menambahkan bahwa harga makanan dengan ukuran yang cukup kecil sangat mahal.
Makanya ia punya trik untuk mengatasi hal tersebut.
“Makanya aku setiap bulan selalu kakak sisihin uang. Sisihin uang itu nanti kakak main kayak sok-sok ya aja. Kayak orang kaya aja, kayak punya duit gitu kan. Yang penting dandan, meyakinkan, cantik gitu kan. Datang masuk,” cerita Shabrina.
“Paling kakak mesennya orange juice sama pesan paling yang apa lava-lava cake. Yang paling itu cuman kayak 80 ribuan gitu kan, itu doang terus, apa chill di situ. Sambil nungguin nanti kan ada momen kayak ayo siapa yang mau request gitu,” bebernya.
Ketika momen itu tiba, Shabrina tidak memilih untuk penyanyi kafe menyanyikan lagu permintaannya. Melainkan ia langsung yang meminta izin untuk bernyanyi. Hal itu ia lakukan ke setiap kafe yang dikunjungi di ragam titik di kawasan Jakarta Selatan.
“Aku datangin untuk itu, apa namanya pura-pura kaya. Nongkrong di situ supaya dapat panggung bisa nyanyi. Karena kalau udah kita udah nyanyi nih, sekali set, nah udah, orang terus pasti musisinya langsung gini, kayak, eh namanya siapa,” ia menambahkan.
“Boleh dong minta kontaknya. Nanti kalau gua kosong-kosong, kalau gua ada tabrakan, boleh nggak backup ini, nah. Dari situ tuh, itu sebuah trik,” lanjut Shabrina.
“Yeeeh, dapat ni. Itu dia, iya,” timpal Kenriz mengarah ke kamera. Shabrina pun terlihat sedang di depan panci, melanjutkan masakan yang akan dirinya hidangkan.
“Tapi ada yang hubungin nggak kak,” tanya Kenriz kepada Shabrina.
“Wah itu, makanya kenapa kakak sekarang bisa kerjaan nih. Alhamdulillah ya maksudnya di dunia nyanyi di Jakarta ini udah, udah alhamdulillah ya. Karena itu dek, channel link nya dengan cara kayak gitu,” beber Shabrina.














