BANDUNG BARAT– Tragedi tanah longsor terjadi di kawasan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, dan menewaskan puluhan prajurit TNI Angkatan Laut. Peristiwa tersebut menimpa prajurit Korps Marinir yang tengah menjalani Latihan Pratugas Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan RI–Papua Nugini (PNG).
Bencana alam yang dipicu cuaca ekstrem itu menyebabkan pergerakan tanah secara tiba-tiba di lokasi latihan. Hingga saat ini, proses evakuasi masih berlangsung dengan melibatkan tim SAR gabungan, personel TNI, serta berbagai unsur terkait untuk mencari korban yang tertimbun material longsor.
TNI Angkatan Laut memastikan sebanyak 23 prajurit Korps Marinir dinyatakan gugur dalam insiden tersebut. Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Muhammad Ali, menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga para prajurit yang meninggal dunia saat menjalankan tugas negara.
Sebagai bentuk tanggung jawab institusi, TNI AL menegaskan seluruh hak prajurit dan keluarga korban akan dipenuhi sesuai aturan yang berlaku. Bantuan yang diberikan meliputi santunan, beasiswa pendidikan bagi anak-anak prajurit hingga jenjang perguruan tinggi, serta peluang kemudahan bagi keluarga untuk bergabung menjadi prajurit TNI.
Selain dukungan materiil, TNI AL juga memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga korban guna membantu pemulihan pascatragedi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi mental keluarga tetap terjaga setelah kehilangan anggota keluarga tercinta.
Dalam perkembangan pencarian, tim SAR gabungan hingga Rabu telah berhasil mengevakuasi lima jenazah prajurit, sementara 18 prajurit lainnya masih dalam proses pencarian. Cuaca yang belum stabil menjadi salah satu tantangan dalam operasi evakuasi di lapangan.
Kelima prajurit yang telah ditemukan masing-masing adalah Serda Marinir Sidiq Hariyanto, Praka Marinir Muhammad Koriq, Praka Marinir Andre Nicky Olga Suwita, Praka Marinir Ari Kurniawan, dan Pratu Marinir Febry Bramantio. Seluruh jenazah telah dipulangkan ke daerah asal untuk dimakamkan secara militer.














