Tak hanya itu, Densus 88 juga mengungkap adanya tren baru perekrutan terorisme yang memanfaatkan game online dan media digital, dengan menyasar remaja yang tengah mencari jati diri. Dalam beberapa kasus, perempuan dan anak bahkan mulai dilibatkan sebagai pelaku.
Ancaman ekstremisme, lanjut AKBP Maslikan, tidak hanya berasal dari ideologi keagamaan menyimpang, tetapi juga dari ideologi ekstrem global seperti White Supremacy dan Neo-Nazi. Berdasarkan pemetaan nasional, sekitar 110 anak di 23 provinsi teridentifikasi terpapar paham tersebut, menandakan perlunya pendekatan yang lebih komprehensif.
Kegiatan ditutup dengan sesi diskusi interaktif dan tanya jawab. Sebagai langkah pencegahan lanjutan, para peserta juga diajak memanfaatkan kanal media sosial @Babelprevention sebagai sarana edukasi, deteksi dini, serta pelaporan awal terhadap konten dan aktivitas mencurigakan di ruang digital.














