“Ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja masih menjadi masalah utama. Banyak perguruan tinggi lebih menekankan aspek teoritis, sementara dunia kerja membutuhkan keterampilan praktis, kemampuan beradaptasi, dan pengalaman,” jelasnya.
Akibatnya, lulusan dihadapkan pada dilema berat: menerima pekerjaan yang tidak relevan dengan latar belakang pendidikan dan berisiko stagnasi karier, atau menunggu peluang yang lebih sesuai dengan konsekuensi menganggur lebih lama.
Fitri menegaskan, keputusan untuk menunggu tidak selalu mencerminkan kemalasan, melainkan strategi bertahan dalam pasar kerja yang belum ramah bagi pencari kerja pemula. Di sisi lain, pertumbuhan lapangan kerja sektor formal dinilai tidak sebanding dengan laju produksi lulusan perguruan tinggi setiap tahunnya.
“Ketimpangan ini membuat persaingan semakin ketat dan menurunkan daya tawar tenaga kerja muda. Tanpa pembenahan serius pada sistem pendidikan dan kebijakan ketenagakerjaan, pengangguran sarjana akan terus menjadi persoalan laten di Bangka Belitung,” pungkasnya.













