BANGKA BELITUNG – KRI Teluk Gilimanuk (531) merupakan salah satu kapal perang milik TNI Angkatan Laut yang memiliki rekam jejak panjang dan bersejarah. Kapal pendarat jenis Landing Ship Medium (LSM) ini hingga kini masih aktif menjalankan berbagai penugasan strategis, mulai dari operasi militer hingga misi kemanusiaan di berbagai wilayah perairan Indonesia.
Kapal ini awalnya dibangun di galangan kapal VEB Peenewerft, Wolgast, Jerman Timur, pada era Perang Dingin. KRI Teluk Gilimanuk pertama kali diluncurkan pada 1 Juli 1975 dan dioperasikan oleh Angkatan Laut Jerman Timur (Volksmarine) dengan nama Hoyerswerda bernomor lambung 611. Kapal tersebut aktif hingga masa reunifikasi Jerman pada awal 1990-an.
Pasca reunifikasi, kapal ini dinonaktifkan sebelum akhirnya dibeli oleh Pemerintah Indonesia pada 25 Agustus 1993 sebagai bagian dari program penguatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI AL.
Setelah menjalani proses refit dan penyesuaian untuk operasional di wilayah tropis, kapal ini resmi dikomisioning menjadi KRI Teluk Gilimanuk (531) pada 12 Juli 1994.
Sejak bergabung dengan armada TNI AL, KRI Teluk Gilimanuk berperan penting dalam mendukung operasi pendaratan pasukan, pengangkutan logistik militer, serta mobilisasi alutsista.
Kapal ini mampu mengangkut ratusan personel beserta kendaraan tempur dan perlengkapan berat, menjadikannya tulang punggung operasi amfibi.
Tidak hanya dalam tugas militer, KRI Teluk Gilimanuk juga kerap dilibatkan dalam operasi kemanusiaan. Kapal ini tercatat beberapa kali dikerahkan untuk menyalurkan bantuan bencana alam, mendukung evakuasi warga, serta membawa logistik ke daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Dengan panjang sekitar 98 meter dan bobot hampir 2.000 ton, KRI Teluk Gilimanuk dikenal tangguh dan andal di berbagai kondisi perairan Nusantara.
Hingga kini, kapal tersebut masih aktif beroperasi di bawah jajaran TNI Angkatan Laut, menjadi simbol pengabdian panjang alutsista laut dalam menjaga kedaulatan dan membantu masyarakat.














