IMG-20260926-WA0062
Bangka Tengah

Nelayan Beriga dan Rias Terjepit Tambang Ilegal

×

Nelayan Beriga dan Rias Terjepit Tambang Ilegal

Sebarkan artikel ini

BANGKA TENGAH – Aktivitas pertambangan ilegal di wilayah pesisir Desa Beriga, Bangka Tengah, mulai menjadi persoalan serius bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari laut.

Di tengah tekanan terhadap ruang tangkap dan lingkungan pesisir, nelayan kini berharap ada kepastian tata kelola yang mampu menjaga sumber penghidupan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

APPLY
Terdepan Menyorot Fakta.
Scroll kebawah untuk lihat konten

Kondisi tersebut dirasakan langsung warga yang tinggal di sekitar lokasi aktivitas tambang. Sejumlah mesin tambang inkonvensional disebut beroperasi hanya sekitar 100 meter dari permukiman dan fasilitas pendidikan. Selain menimbulkan kebisingan, aktivitas tersebut juga dikhawatirkan berdampak terhadap kualitas lingkungan akibat limbah lumpur hasil pencucian pasir timah.

Limbah yang tidak dikelola dengan baik berpotensi meresap ke tanah dan mengancam sumber air bersih warga. Kondisi perairan pesisir juga menjadi perhatian karena laut selama ini menjadi sumber utama penghasilan masyarakat Beriga.

Bagi nelayan setempat, keberadaan wilayah tangkap hingga sekitar 40 mil menuju perairan Pulau Gelasa merupakan bagian penting dari kehidupan mereka.

Hendra, salah seorang nelayan Beriga, mengatakan hasil laut sebenarnya mampu memberikan penghasilan yang cukup bagi keluarga apabila kondisi perairan tetap terjaga.

“Alhamdulillah penghasilan kami sejahtera, kebutuhan kami untuk hidup layak ini hanya melaut saja. Sekarang sedang musim udang, satu kali melaut bisa dapat 20–40 kilogram udang size 30 yang kita jual ke tengkulak Rp85.000 per kilogram,” ungkap Hendra.

Namun, kondisi tersebut dinilai semakin terancam seiring aktivitas ponton tambang ilegal yang berlangsung di kawasan perairan. Kerusakan ekosistem laut dikhawatirkan membuat hasil tangkapan nelayan menurun dan pada akhirnya berdampak terhadap ekonomi keluarga.

Dampak tersebut juga dirasakan kelompok usaha yang dibentuk oleh para istri nelayan. Koperasi “Perempuan Berantai”, yang sebelumnya memanfaatkan hasil laut untuk diolah menjadi produk makanan, kini ikut terdampak karena pasokan ikan tidak lagi tersedia secara konsisten.

error: