BANGKA BARAT – Ketersediaan gas LPG subsidi ukuran 3 kilogram atau yang dikenal sebagai gas melon sempat menjadi keluhan warga di Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat. Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat kesulitan mendapatkan LPG 3 kg akibat stok yang tidak tersedia di sejumlah pangkalan dan warung eceran.
Kondisi tersebut memaksa warga mencari gas melon hingga ke berbagai titik. Namun upaya tersebut tak selalu membuahkan hasil, sehingga aktivitas rumah tangga pun terganggu, terutama untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
Seorang warga Mentok, Ati, mengaku sudah lebih dari sepekan kesulitan memperoleh gas LPG 3 kilogram. Ia bahkan harus berkeliling dari satu pangkalan ke pangkalan lainnya tanpa hasil.
“Sudah lebih dari seminggu saya cari gas melon. Di pangkalan kosong, di warung juga tidak ada,” ujar Ati, Senin (19/1/2026).
Akibat kelangkaan tersebut, Ati terpaksa kembali menggunakan kayu bakar untuk memasak kebutuhan keluarga. Ia mengaku belum mampu membeli tabung gas non-subsidi karena keterbatasan ekonomi.
“Terpaksa masak pakai kayu dulu. Kalau beli gas besar, uangnya belum ada, lebih baik dipakai beli beras,” ungkapnya.
Menanggapi situasi ini, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat melalui Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan (DKUP) berencana memperketat pengawasan penyaluran LPG subsidi 3 kilogram di seluruh wilayah.
Kepala DKUP Bangka Barat, Miwani, menyatakan pengawasan akan segera dilakukan menyusul adanya laporan dan isu kelangkaan gas melon di tengah masyarakat.
“Pengawasan akan kami lakukan karena memang muncul informasi terkait kelangkaan LPG 3 kilogram,” kata Miwani, Selasa (20/1/2026).
DKUP Bangka Barat akan melibatkan sejumlah pihak terkait dalam pengawasan tersebut, mulai dari camat di masing-masing wilayah, Satpol PP, hingga Satreskrim Polres Bangka Barat. Namun, lokasi dan waktu sidak ke pangkalan masih dirahasiakan.
“Kami libatkan camat, Satpol PP, dan kepolisian. Jadwal serta titik pengawasan belum kami buka ke publik karena masih menunggu jadwal distribusi dari agen,” jelasnya.













