BANGKA BELITUNG – Peningkatan angka pengangguran lulusan diploma dan sarjana di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjadi sinyal serius adanya persoalan mendasar dalam sistem ketenagakerjaan dan pendidikan tinggi. Kondisi ini menantang anggapan lama bahwa gelar akademik otomatis menjamin masa depan kerja yang aman dan mapan.
Data terbaru menunjukkan bahwa lulusan pendidikan tinggi justru semakin rentan terjebak dalam pengangguran terbuka. Realitas ini memunculkan pertanyaan besar tentang sejauh mana sistem pendidikan mampu menyiapkan sumber daya manusia yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.
Berdasarkan catatan statistik ketenagakerjaan, dari total 1.189.495 penduduk usia kerja di Bangka Belitung, sebanyak 35.510 orang tercatat tidak bekerja. Jika ditelusuri berdasarkan jenjang pendidikan, tingkat pengangguran justru lebih tinggi pada lulusan pendidikan menengah dan tinggi.
Rinciannya, pengangguran lulusan SD ke bawah berada di angka 2,33 persen, SMP 3,04 persen, SMA 4,80 persen, SMK 6,53 persen, Diploma I/II/III sebesar 6,58 persen, dan lulusan Diploma IV hingga Strata Tiga mencapai 6,48 persen. Angka ini menempatkan lulusan perguruan tinggi sebagai salah satu kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi.
Fenomena tersebut kerap disederhanakan dengan anggapan bahwa lulusan sarjana terlalu selektif dalam memilih pekerjaan. Namun, Dosen Sosiologi Universitas Bangka Belitung, Dr. Fitri Ramdhani Harahap, M.Si menilai pandangan itu keliru dan menutup persoalan struktural yang lebih kompleks.
“Dalam perspektif sosiologi, pengangguran tidak bisa dilihat semata sebagai kegagalan individu. Ini merupakan hasil dari ketidakseimbangan antara sistem pendidikan, struktur pasar kerja, dan dinamika ekonomi yang berkembang,” ujar Fitri, Senin (9/2/2026).
Menurutnya, selama bertahun-tahun lulusan perguruan tinggi dibentuk oleh ekspektasi sosial bahwa gelar akademik identik dengan pekerjaan yang layak, stabil, dan sesuai bidang keilmuan. Ketika pasar kerja tidak mampu menyediakan ruang tersebut, yang muncul bukan sikap memilih-milih, melainkan kebingungan dan ketidakpastian masa depan.













