BANGKA BARAT – Fasilitas kesehatan Puskesmas Jebus yang baru rampung dibangun justru menghadapi masalah serius. Saat hujan mengguyur, bangunan tersebut mengalami kebanjiran hingga menyebabkan plafon ambruk, sehingga mengganggu aktivitas pelayanan kesehatan.
Kondisi ini memaksa tenaga kesehatan setempat berjibaku membersihkan genangan air di dalam ruangan agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan. Peristiwa tersebut memicu perhatian dari pihak legislatif karena dinilai berpotensi membahayakan keselamatan dan kenyamanan pasien maupun petugas.
Menanggapi kejadian tersebut, Wakil Ketua II DPRD Bangka Barat, Samsir, langsung turun ke lokasi untuk meninjau kondisi bangunan. Dari hasil peninjauan, ia menemukan adanya dugaan kesalahan dalam sistem drainase, khususnya pada pemasangan talang air.
Samsir mengatakan, talang air yang dipasang tidak memenuhi standar, sehingga tidak mampu menampung debit air hujan yang tinggi. Akibatnya, beban air menyebabkan plafon berbahan PVC tidak kuat menahan tekanan hingga akhirnya ambruk.
“Solusinya, bukan hanya ganti holo (yang rusak) dan PVC plafon saja. Tapi harus membongkar dan mengganti talang airnya,” kata Samsir, Rabu (22/4/2026).
Selain itu, ia juga menyoroti sumber utama kebanjiran yang justru berasal dari dalam bangunan Puskesmas itu sendiri. Menurutnya, seluruh aliran air hujan dari atap diarahkan ke satu titik di dalam gedung.
“Seluruh air dari atap tumpah ke satu tempat di dalam Puskesmas. Mungkin mereka mau membangun taman di dalam Puskemas,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menilai desain tersebut tidak didukung sistem pembuangan air yang memadai. Area berbentuk segi empat yang direncanakan sebagai taman hanya memiliki satu saluran pembuangan dengan pipa berukuran kecil, yakni sekitar 4 inci.
Kondisi ini dinilai sebagai bentuk perencanaan yang kurang matang, karena tidak mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap bangunan, terutama saat curah hujan tinggi.
Samsir pun mendesak dinas terkait untuk segera mengambil langkah cepat dengan menurunkan tim teknis guna melakukan evaluasi dan perbaikan menyeluruh. Ia menegaskan, perbaikan tidak boleh setengah-setengah agar masalah serupa tidak terus berulang.















