BANGKA BARAT – Pemerintah Kabupaten Bangka Barat bersiap mengakselerasi pengembangan kawasan wisata terpadu melalui proyek penataan klaster Eropa di Kecamatan Mentok. Program strategis ini diyakini menjadi salah satu penggerak baru sektor pariwisata sekaligus ekonomi lokal.
Langkah awal dimulai dengan audiensi antara Direktorat Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum bersama jajaran pemerintah daerah. Pertemuan tersebut menegaskan kesiapan teknis dan koordinasi lintas pihak sebelum proyek fisik resmi berjalan.
Audiensi yang digelar di Ruang Operational Room I Setda Bangka Barat pada Kamis (23/4/2026) turut dihadiri Kepala Balai Penataan Bangunan dan Prasarana Kawasan Bangka Belitung. Pembahasan difokuskan pada rencana penataan klaster Eropa yang mencakup kawasan Lapangan Gelora dan Taman Lokomobil di Mentok.
Proyek ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp22,7 miliar dan akan dikerjakan oleh PT Diatasa Jaya Mandiri dalam waktu delapan bulan, dimulai dari April hingga Desember 2026.
Bupati Bangka Barat, Markus, mengatakan bahwa audiensi tersebut membahas secara menyeluruh berbagai aspek teknis hingga pengawasan proyek.
“Tentunya kita berharap proyek pembangunan klaster Eropa ini dapat diselesaikan tepat waktu dan tentunya memberikan manfaat kepada masyarakat Bangka Barat,” ujarnya.
Menurut Markus, ke depan kawasan Taman Gelora dan Lokomobil akan dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan UMKM serta menyediakan ruang terbuka hijau bagi masyarakat.
“Tentunya kami berterima kasih kepada Kementerian PU harapan kami ini bisa memberikan manfaat dan dampak ekonomi kepada masyarakat Bangka Barat,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa proyek ini tetap memperhatikan aspek pelestarian, mengingat Lapangan Gelora dan Taman Lokomobil merupakan bagian dari kawasan cagar budaya. Oleh karena itu, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) dilibatkan untuk memberikan rekomendasi teknis.
“Kalau cagar budaya mereka yang tahu kan mana patok yang misalnya tadi tidak boleh dikotak katik. Mereka ahlinya kan makanya kita minta tim pendampingan dari tim cagar budaya,” kata Markus.















