“Ku kira boneka. Kan biasanya ada di kapal. Tapi ku dekati ternyata mayat. Mayat ini ku bilang teman,” katanya, Senin (9/2/2026).
Feri bersama rekannya memilih tidak melakukan evakuasi karena khawatir dan tidak memiliki perlengkapan memadai. Ia kemudian menepi lebih dulu dengan tujuan meminta bantuan warga lain agar laporan dapat segera diteruskan ke pihak kepolisian.
Sayangnya, saat hendak kembali mendekat, bahan bakar perahunya habis sehingga ia tidak bisa lagi menjangkau posisi jasad tersebut. Arus laut pun perlahan membawa tubuh itu menjauh dari titik awal.
“Minyak aku kering, hanyut lah mayat itu. Teman yang di pantai lapor ke polisi,” ujarnya saat ditemui di sekitar Pantai Tanjungkalian.
Menurut pengakuannya, kondisi mayat saat pertama terlihat masih mengenakan pakaian lengkap hingga sepatu bot. Ia juga tidak melihat adanya puing kapal maupun benda mencurigakan lain di sekitar lokasi penemuan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat pesisir agar segera melapor kepada aparat berwenang jika menemukan kejadian serupa di laut. Koordinasi cepat dinilai penting agar proses identifikasi dan penanganan dapat dilakukan lebih efektif serta menghindari hilangnya jejak akibat arus perairan.
















