“Di mana peran pemerintah Bangka Belitung. Kenapa ketimpangan harga antara Bangka dan Belitung sampai begitu jauh, padahal satu provinsi,” ujarnya.
Ia juga berharap adanya langkah nyata untuk melindungi petani kecil yang sangat bergantung pada hasil perkebunan sawit.
“Mohon kiranya pemerintah bisa bantu para petani kecil yang hanya punya 2–3 hektar, karena kami hanya bergantung dengan sawit. Timah sudah susah, tidak ada harapan lain,” tambahnya.
Hal serupa diungkapkan petani di Kabupaten Bangka Barat, khususnya di Desa Neknang. Mereka menyebut mayoritas masyarakat setempat menggantungkan hidup pada sektor sawit sehingga fluktuasi harga sangat berdampak langsung terhadap kesejahteraan keluarga.
“Kami ini tak ada kerja lain selain di kebun, jadi yang kami harapkan pemerintah bisa membantu memperjuangkan harga ini. Kami dengar juga harga di Belitung lebih tinggi,” ungkapnya.
Situasi ini menjadi sinyal kuat bagi pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret dalam menjaga stabilitas harga sawit. Diharapkan, kebijakan yang diambil nantinya mampu memberikan keadilan harga bagi seluruh petani di Bangka Belitung sekaligus menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat di sektor perkebunan.













