HUT BABAR 2026 (4X6)..
Bangka Barat

Harga Sawit Babar Anjlok, Petani Menjerit Biaya Pupuk Melambung

×

Harga Sawit Babar Anjlok, Petani Menjerit Biaya Pupuk Melambung

Sebarkan artikel ini

BANGKA BARAT – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mengalami penurunan tajam dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini memicu keresahan para petani sawit karena harga jual di tingkat pengepul turun drastis dibanding sebelumnya.

Penurunan harga tersebut dinilai sangat memberatkan petani, terutama di tengah tingginya biaya perawatan kebun dan pupuk. Sejumlah petani mengaku mulai kesulitan mengatur modal operasional lantaran harga jual sawit tidak lagi sebanding dengan biaya produksi.

APPLY
Terdepan Menyorot Fakta.
Scroll kebawah untuk lihat konten

Salah satu petani sawit di Bangka Barat, Anda, mengatakan harga sawit saat ini berada di kisaran Rp1.500 hingga Rp1.600 per kilogram. Padahal sebelumnya harga TBS masih bertahan di angka Rp2.500 sampai Rp2.600 per kilogram.

“Parah harga sawit sekarang, sebelum e 2500 sampai 2600. Sekarang 1500 sampai 1600,” kata Anda, Senin (25/5/2026).

Menurutnya, anjloknya harga sawit sangat berdampak terhadap keberlangsungan usaha perkebunan masyarakat. Pasalnya, biaya pupuk dan perawatan kebun terus mengalami kenaikan setiap tahun.

“Harga pupuk mahal, saat ini pupuk 1,8 juta perhektar, setahun 8 kali pemupukan,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar harga sawit kembali stabil dan berpihak kepada petani kecil. Dengan harga yang lebih baik, petani dinilai dapat kembali memutar modal untuk kebutuhan kebun dan perawatan tanaman.

“Kita berharap harga naik lagi, stabil diatas dua ribu di pengepul, supaya mudah ngatur modalnya,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bangka Barat, Azmal, menyebut penurunan harga sawit diduga dipengaruhi kebijakan terkait tata kelola ekspor crude palm oil (CPO) yang disampaikan pemerintah pusat.

Menurut Azmal, pidato Presiden mengenai kebijakan ekspor CPO satu pintu memicu gejolak di sektor perkebunan sehingga berdampak pada harga jual sawit di daerah.

“Jadi dengan adanya pidato pak presiden itu, perkebunan sudah gelisah jadinya, dan anjlok. Tapi itu tidak masalah dan kedepannya bagaimana pengaturannya. Kalau kita ikut aturan saja,” katanya.

error: