Menurut Yus, kegiatan tersebut tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah serta memperkuat hubungan antara ulama, umara, dan masyarakat.
“Selain menjadi sarana ibadah, kegiatan ini juga mempererat ukhuwah Islamiyah dan memperkuat hubungan antara ulama, umara, serta masyarakat,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Bangka Barat sendiri telah memasukkan Ziarah Kute Seribu sebagai salah satu ritus dalam Objek Pemajuan Kebudayaan yang perlu dijaga dan dilestarikan. Tradisi tersebut dinilai memiliki nilai historis, budaya, dan keagamaan yang kuat serta menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Mentok.
Selain menjadi wadah pelestarian budaya, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi yang mempertemukan jamaah dari berbagai daerah, termasuk rombongan dari Palembang dan sejumlah wilayah lainnya.
Kehadiran para peziarah dari luar Bangka menunjukkan bahwa tradisi Ziarah Kute Seribu memiliki daya tarik tersendiri sebagai warisan budaya Islam yang terus hidup di tengah masyarakat.















