IMG-20260926-WA0062
Belitung Timur

Nelayan Olivier Belitung Timur Terhimpit Biaya Melaut, Preman Laut hingga Tambang Ilegal

×

Nelayan Olivier Belitung Timur Terhimpit Biaya Melaut, Preman Laut hingga Tambang Ilegal

Sebarkan artikel ini
Tambang timah di Belitung Timur. Foto: Istimewa.
Tambang timah di Belitung Timur. Foto: Istimewa.

Ia menyebut kejadian tersebut berlangsung di sejumlah perairan, mulai dari sekitar Burung Mandi, Olivier, hingga Gantung.

“Jadi jika mereka naik ke darat Belitung Timur pasti dihakimi nelayan dan warga,” ujarnya.

APPLY
Terdepan Menyorot Fakta.
Scroll kebawah untuk lihat konten

Pengakuan tersebut menunjukkan adanya persoalan keamanan yang perlu mendapat perhatian aparat penegak hukum. Perlindungan terhadap nelayan harus menjadi prioritas agar aktivitas mencari nafkah di laut tidak dibayangi ancaman kekerasan maupun perampasan.

Tambang Ilegal Dikhawatirkan Ganggu Hasil Tangkapan

Persoalan lain yang disoroti nelayan adalah dugaan aktivitas penambangan timah ilegal di kawasan pesisir. Raden menyebut aktivitas tersebut berlangsung pada malam hari, sementara peralatan tambang disimpan atau dibongkar pada siang hari.

“Tambang ilegal itu hanya bekerja malam hari saja, bahkan tengah malam. Lihat saja di pinggir pantai itu ada susunan kayu dan dudukan mesin tambang yang disimpan dan dibongkar oleh penambang untuk bekerja,” terang Pak Raden.

Keluhan serupa disampaikan Hairul Fatah, nelayan lainnya. Ia mengaku pendapatan bersih dari melaut berkisar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per hari. Namun, ketika kondisi cuaca dan hasil tangkapan tidak mendukung, penghasilannya bisa turun menjadi Rp50 ribu sampai Rp75 ribu.

Di sisi lain, kebutuhan BBM mencapai 10 hingga 30 liter sehari dengan biaya yang dapat menyentuh Rp300 ribu.

Hairul juga merasakan perubahan kondisi perairan. Ikan dan udang yang sebelumnya relatif mudah ditemukan di sekitar pantai kini semakin sulit diperoleh.

“Ikan-ikan tidak ada lagi dipinggir karena mereka juga takut dengan tambang ilegal yang sering ada malam hari,” ujarnya.

Meski demikian, dugaan hubungan antara aktivitas pertambangan dan menurunnya hasil tangkapan nelayan perlu dibuktikan melalui pemeriksaan kualitas air serta kajian lingkungan di kawasan tersebut.

Nelayan Beralih Menambang, Anak Muda Tinggalkan Laut

Minsawi, nelayan asal Desa Kurnia Jaya yang pernah bekerja di PT Timah pada 1981–1994, turut menggambarkan perubahan kehidupan masyarakat pesisir Olivier.

error: