IMG-20260926-WA0062
Belitung Timur

Nelayan Olivier Belitung Timur Terhimpit Biaya Melaut, Preman Laut hingga Tambang Ilegal

×

Nelayan Olivier Belitung Timur Terhimpit Biaya Melaut, Preman Laut hingga Tambang Ilegal

Sebarkan artikel ini
Tambang timah di Belitung Timur. Foto: Istimewa.
Tambang timah di Belitung Timur. Foto: Istimewa.

Ia menyebut wilayah tangkap nelayan bisa mencapai sekitar delapan mil ke arah Pekuk Limau hingga 36 mil menuju Belidang dan Pulau Sukun, apabila kondisi cuaca memungkinkan.

Namun, saat angin kencang, aktivitas melaut terpaksa dihentikan. Sebagian masyarakat kemudian mencari penghasilan alternatif, termasuk bekerja di sektor pertambangan timah.

APPLY
Terdepan Menyorot Fakta.
Scroll kebawah untuk lihat konten

“Sekarang angin kencang jadi nelayan tidak ada yang kelaut. Di Kampung Baru itu nelayan banyak ikut menambang timah, PETI rajuk dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore. Di ujung Kampung Baru dekat hutan bakau itu banyak PETI rajuk, padahal sungai-sungai itu dekat Pantai Serdang, di sini juga ada Pantai Cemara, Pantai Olivier dan Pantai Samak,” ujarnya.

Kondisi tersebut memperlihatkan tekanan ekonomi yang mendorong sebagian masyarakat pesisir mencari sumber pendapatan lain. Di tengah ketidakpastian hasil tangkapan, pekerjaan sebagai nelayan semakin sulit menarik minat generasi muda.

Satuniyah, istri nelayan keturunan Bugis, mengatakan hasil tangkapan suaminya selama ini lebih banyak dijual kepada tengkulak. Sebagian kecil ikan disisihkan untuk kebutuhan konsumsi keluarga.

“Anak cucu kami orang Bugis campuran. Hasil tangkapan suami itu dijual ke tengkulak, kecuali ada sisa untuk makan. Jika angin kencang tidak melaut, kerja serabutan dan Anak kami tidak jadi nelayan. Tidak ada anak muda di desa ini yang pergi melaut,” terang Satuniyah.

Sementara itu, Suga, istri nelayan lainnya, mengaku keluarga nelayan belum memiliki kemampuan dan tenaga yang cukup untuk mengolah hasil laut menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

“Kami tidak ada kemampuan untuk mengolah ikan, berjualan keliling juga tidak ada tenaga lagi,” tutupnya.

Embung Mempaya Ikut Disorot, Warga Takut Mendekat

Keluhan mengenai aktivitas tambang juga muncul di kawasan Embung Mempaya, yang berada di ruas jalan Tanjung Pandan–Manggar.

Embung yang dibangun pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dengan anggaran miliaran rupiah itu sebelumnya diharapkan mendukung ketersediaan air, konservasi, sekaligus menjadi ruang rekreasi masyarakat.

error: