BANGKA BARAT – Upaya meningkatkan kualitas gizi anak serta pencegahan stunting terus menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk melalui pemberian telur. Langkah ini dinilai sebagai solusi praktis untuk membantu memenuhi kebutuhan protein hewani, khususnya bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bangka Belitung, Fazar Supriadi Sentosa, menyatakan dukungannya terhadap program pemberian telur tersebut. Menurutnya, telur merupakan sumber protein hewani yang sangat baik bagi anak-anak.
Hal itu disampaikan Fazar Supriadi Sentosa, saat menghadiri HUT ke-75 Ikatan Bidan Indonesia (IBI) yang berlangsung di Puskesmas Mentok, Kabupaten Bangka Barat, pada Kamis (30/4/2026).
“Ya (sepakat) pemberian telur karena salah satu mengandung protein hewani. Karena sebaiknya anak itu dikasih telur minimal satu kali per hari bagus kalau dua kali. Jadi sepakat dengan pemberian telur,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kondisi ekonomi masyarakat yang dinilainya belum merata. Tidak semua keluarga mampu menyediakan asupan gizi yang ideal setiap hari, sehingga perlu adanya dukungan dari berbagai pihak.
“Sebenarnya ya karena masyarakat tidak semuanya mampu, kalau dia semuanya mampu ya tidak telur aja yang dia makan, daging aja dia makan. Karena kurang mampu harus disediakan oleh pemerintah, swasta maupun siapapun yang bisa membantu lah ya,” katanya.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat menjadi kunci dalam memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi, terutama dalam situasi ekonomi yang menantang.
“Negara kan karena keadaan perang ini juga kekurangan uang karena menutup biaya maka harus saling bantu,” tambahnya.
Terkait efektivitas konsumsi telur dalam penanganan stunting, Fazar mengakui bukan berasal dari latar belakang ahli gizi. Namun ia meyakini kandungan protein dalam telur memberikan dampak positif bagi pertumbuhan anak.
“Hah itu (efektif konsumsi telur dalam penanganan stunting) saya kurang tau karena bukan ahli gizi. Yang jelasnya pasti ada pengaruhnya karena dia mengandung protein. Karena dia anak-anak itu perlunya protein hewani beda dengan yang tua kita butuh protein nabati,” ujarnya.















