Dalam sambutannya, Sekda Muhammad Soleh juga mengungkap beberapa tantangan seperti data objek pajak yang belum lengkap, keluhan prosedur administrasi, hambatan akses digital di wilayah terpencil, serta masih lemahnya koordinasi lintas instansi dalam pengawasan.
Namun, ia optimis bahwa dengan upaya bersama (sinergi Pemkab, provinsi, BAKUDA, dan pelaku usaha), tantangan tersebut bisa dieliminasi.
“Komitmen kita adalah inklusif: tidak ada wajib pajak yang tertinggal,” tegasnya. Ia menyebut akan disiapkan mekanisme konsultasi pajak, pusat pelayanan terpadu, dan digitalisasi sistem agar pembayaran dan pelaporan semakin mudah dan transparan.
Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat Bangka Barat untuk memahami bahwa pajak bukan beban semata, melainkan kontribusi konkret bagi pembangunan. Dengan kesadaran bersama, ia berharap optimalisasi penerimaan pajak akan membuka ruang bagi pelayanan publik yang lebih baik dan pemerataan pembangunan.
Setelah pembukaan resmi oleh Sekda, acara pun berlanjut dengan paparan teknis dari Kepala BPP2RD, diskusi panel, serta sesi tanya jawab dengan peserta, sebagai wujud nyata kolaborasi antara pemerintah dan warga dalam mewujudkan Kabupaten Bangka Barat yang mandiri dan sejahtera















