Penulis: Rian, Pengamat Pemerintahan
OPINI – Pergantian kepemimpinan dan penyegaran struktur pemerintahan kerap disambut dengan optimisme publik. Narasi perubahan digaungkan, jargon reformasi diperkenalkan, dan simbol-simbol pembaruan dipamerkan ke ruang publik.
Namun, pertanyaan mendasarnya tetap sama: apakah yang berubah benar-benar sistemnya, atau sekadar kemasannya? Di sinilah publik berhak bersikap kritis—bukan sinis—untuk memastikan reformasi tidak berhenti sebagai retorika politik.
Dalam praktiknya, reformasi sering kali terjebak pada perubahan administratif dan simbolik. Regulasi baru diluncurkan, struktur dirombak, tetapi pola relasi kuasa dan budaya kerja lama masih bertahan.
Ketika aktor-aktor yang sebelumnya menjadi bagian dari persoalan tetap berada di lingkar pengambilan keputusan, maka pembaruan berisiko kehilangan substansinya.
Sistem yang seharusnya dibersihkan justru tampak merawat problem lama atas nama stabilitas dan kesinambungan.
Kondisi ini menimbulkan paradoks tata kelola. Pemerintahan dituntut menghasilkan kebijakan yang adil, transparan, dan berpihak pada kepentingan publik, sementara fondasi internalnya belum sepenuhnya beranjak dari praktik-praktik yang selama ini dikritik.
Akibatnya, kepercayaan publik tumbuh setengah hati. Masyarakat melihat hasil yang tidak sebanding dengan janji, lalu mempertanyakan arah perubahan yang sesungguhnya.
Namun demikian, kritik terhadap sistem tidak boleh bergeser menjadi penghakiman personal atau tudingan tanpa dasar. Kode etik jurnalistik mengamanatkan kehati-hatian: kritik harus berbasis fakta, analisis rasional, dan kepentingan publik.
Yang diuji bukan individu semata, melainkan mekanisme dan keberanian institusi untuk melakukan koreksi internal secara konsisten dan terukur.
Reformasi sejati menuntut lebih dari sekadar pergantian wajah. Ia membutuhkan keberanian memutus mata rantai kepentingan, menegakkan meritokrasi, serta membuka ruang pengawasan publik yang bermakna. Tanpa itu, perubahan hanya akan menjadi siklus kosmetik—menarik dilihat, namun rapuh di dalam.














