Penulis: Tjuk Suwarsono, Wartawan
Era Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) menandai babak baru peradaban. AI tidak hanya mengubah cara manusia bekerja dan belajar, tetapi juga memengaruhi cara berpikir, berinteraksi, bahkan cara kita beriman.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, pendidikan santri diandalkan menjadi penjaga nilai, moral, dan akhlak bangsa. Menjaga tradisi keilmuan Islam yang berakar kuat, sekaligus beradaptasi dengan kemajuan teknologi.
Lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia adalah pondok pesantren. Menurut Gus Dur, lembaga pendidikan ini awalnya mendapatkan sedikit perhatian.
Streen Brink (1994) menyebut, sejak negara merdeka hingga masa Orde Baru, pondok pesantren dipinggirkan, namun tetap mampu bertahan dan bermetamorfosis menjadi lembaga pendidikan tinggi berbentuk ma’had aly, sekolah tinggi, institut, dan universitas.
Buku sejarah masih sedikit yang menulis hal ini. Nurcholish Madjid menyebut pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua yang diharapkan mampu mencetak kiai dan pemimpin keagamaan yang saleh serta dijiwai semangat moral agama.
Namun rimba digital telah tumbuh menggila dan mengepung peran pesantren. Ini menjadi taruhan: apakah pesantren tenggelam dalam gelap rimba, atau bertahan dan menerabas keluar secara kreatif. Penetrasi teknologi digital semakin luas.
Berdasarkan laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bertajuk Profil Internet Indonesia 2025, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 229.428.417 jiwa, meningkat signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Pada 2023 jumlah pengguna internet sekitar 215 juta jiwa, naik menjadi 221,5 juta jiwa pada 2024. Dalam satu tahun terakhir, jumlahnya bertambah sekitar 8 juta jiwa hingga menembus 229,4 juta pada 2025.
APJII juga mencatat tingkat penetrasi internet mencapai 80,66 persen. Artinya, lebih dari delapan dari sepuluh penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 284,43 juta jiwa telah memiliki akses internet.
Survei tersebut mengungkap Generasi Z (lahir 1997–2012) menjadi kelompok paling dominan pengguna internet dengan kontribusi 25,54 persen, disusul Generasi Milenial (25,17 persen), dan Generasi Alpha (23,19 persen).
















