Penggunaan deepfake, algoritma pemicu polarisasi, hingga chatbot penghasil konten palsu tanpa kendali moral dapat menjadi ancaman serius bagi kemanusiaan. Dalam tradisi Islam, ilmu (‘ilm) harus selalu disertai adab (akhlaq).
Ketika dunia modern mengagungkan kecepatan dan efisiensi, santri diharapkan menghadirkan keseimbangan etis—menjadi penyaring moral di tengah banjir informasi, menandingi narasi destruktif dengan dakwah yang santun dan edukatif. Literasi digital bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi juga etika, keamanan, dan tanggung jawab sosial.
















