Penulis: Tjuk Suwarsono, Wartawan
Memasuki tahun baru 2026, kita dihadapkan pada tantangan serius meretas jalan terjal menuju Indonesia Emas 2045. Pembangunan manusia warga bangsa itulah tujuan setiap negara.
Cara mengukurnya didasarkan pada tiga dimensi dasar: umur panjang dan sehat (harapan hidup), pengetahuan (melek huruf, harapan lama sekolah, rata-rata lama sekolah), dan standar hidup (pendapatan perkapita) yang layak.
Tahun 2025 Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 75,90, meningkat 0,88 poin atau 1,17 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 75,02. Jakarta menempati posisi teratas sebagai provinsi dengan IPM tertinggi, dengan nilai 85,05.
Posisi kedua DI Yogyakarta sebesar 82,48, diikuti Kepulauan Riau dengan 80,53 sebagai provinsi teratas dari luar Jawa. Ketiga provinsi ini berstatus IPM sangat tinggi di atas angka 80. Kalimantan Timur dan Bali menempati peringkat keempat dan kelima dengan selisih tipis, 79,39 dan 79,37.
Urutan atas berikutnya tercatat provinsi Sumatra Barat nilai 77,27, Banten 77,25, Sumatra Utara di posisi delapan 76,47. Untuk Pulau Sulawesi catatan terbaik diperoleh Sulawesi Utara dengan IPM 76,32. Mencermati deretan angka ini tampak Pulau Jawa rata-rata masih lebih tinggi.
Jakarta selalu memimpin provinsi dengan IPM tertinggi mulai tahun 2022 dengan 82,77. Meningkat tahun berikutnya menjadi 83,55 dan tahun 2025 naik sebesar 0,9 poin dari tahun sebelumnya yang 84,15.
Secara nasional, nilai IPM Indonesia terus meningkat dalam lima tahun terakhir. Berawal tahun 2020 IPM tercatat 72,81, menjadi 73,16 pada 2021. Tahun 2022 mencapai 73,77, tahun 2023 menembus 74,39 dan 75,02 pada periode berikutnya.
Tak sederhana mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, karena salah satu indikator krusialnya adalah peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Berdasarkan data United Nations Development Programme (UNDP), nilai IPM Indonesia masih berada di angka 0,71 di tahun 2022. Ini peringkat 6 di Asia Tenggara dan urutan ke 113 dunia.














