Lebih lanjut, Farouk mengucapkan terima kasih kepada penulis dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyusunan buku tersebut. Ia berharap hibah buku ini mampu meningkatkan kesadaran sejarah, khususnya di kalangan generasi muda Bangka Barat.
Sementara itu, Syarifudin Isa menjelaskan bahwa buku yang ditulisnya merupakan karya dokumenter yang disusun secara kronologis, mulai dari konteks global Perang Dunia II hingga masuknya tentara Jepang ke Mentok dan berbagai peristiwa penting yang terjadi di wilayah tersebut.
Ia menyebutkan penggunaan frasa “dalam kilasan sejarah” pada judul buku dimaksudkan untuk menggambarkan keterkaitan tidak langsung masyarakat Mentok dengan perang, kecuali pada peristiwa-peristiwa tertentu seperti evakuasi korban perang.
Dalam buku tersebut, Syarifudin mengulas tragedi tenggelamnya kapal Vyner Brooke, pembantaian di Radji Beach, kisah Vivian Gordon Bowden, hingga kesaksian sejarah Vivian Bullwinkel. Narasi yang dihadirkan menitikberatkan pada sisi kemanusiaan dan dampak perang terhadap masyarakat lokal.
“Tujuan saya menulis buku ini agar generasi sekarang dan mendatang memahami apa yang sebenarnya terjadi di Mentok pada masa Perang Dunia II. Letak geografis Mentok yang strategis memiliki kaitan erat dengan peristiwa tersebut dan dapat menjadi potensi pengembangan daerah,” jelasnya.
Ia mencontohkan, potensi sejarah tersebut telah diwujudkan melalui pendirian museum perdamaian di Karanggan Atas yang dibangun tanpa menggunakan APBD, melainkan dari jejaring sejarah Perang Dunia II.
Museum tersebut dibangun melalui donasi keluarga korban perang dari berbagai negara seperti Inggris, Selandia Baru, dan Australia, yang memiliki keterikatan sejarah dengan Kota Mentok. Menurut Syarifudin, hal ini menjadi bukti bahwa sejarah lokal memiliki nilai besar untuk dikembangkan sebagai aset edukasi dan budaya di masa depan.














