IMG-20260926-WA0062
Belitung Timur

Nelayan Olivier Belitung Timur Terhimpit Biaya Melaut, Preman Laut hingga Tambang Ilegal

×

Nelayan Olivier Belitung Timur Terhimpit Biaya Melaut, Preman Laut hingga Tambang Ilegal

Sebarkan artikel ini
Tambang timah di Belitung Timur. Foto: Istimewa.
Tambang timah di Belitung Timur. Foto: Istimewa.

BELITUNG TIMUR – Kehidupan nelayan di kawasan Olivier, Kabupaten Belitung Timur, kian dihadapkan pada berbagai tekanan. Selain harus menanggung tingginya biaya operasional melaut, mereka juga mengaku dihantui ancaman perampasan hasil tangkapan hingga aktivitas tambang timah ilegal yang diduga mengganggu wilayah pesisir.

Kondisi tersebut membuat penghidupan masyarakat nelayan semakin sulit. Pendapatan yang tidak menentu harus dibagi untuk membeli bahan bakar, memenuhi kebutuhan keluarga, hingga membayar pinjaman. Sementara itu, keamanan saat mencari ikan dan keberlanjutan kawasan pesisir menjadi persoalan yang belum menemukan penyelesaian.

APPLY
Terdepan Menyorot Fakta.
Scroll kebawah untuk lihat konten

Pak Raden, salah seorang nelayan Olivier, mengatakan sekali melaut dirinya harus mengeluarkan modal sekitar Rp300 ribu untuk membeli bahan bakar minyak (BBM). Kebutuhan BBM berkisar 20 hingga 40 liter, bergantung pada jarak lokasi penangkapan ikan.

“Ongkos melaut kini semakin mahal. Sekali melaut butuh 20-40 liter untuk BBM, jika dekat 20 liter cukup, jadi hitungannya 300 ribu modal sekali melaut, hasilnya saat rezeki bagus dapat bersih Rp 150-200 ribu,” ujar Pak Raden.

Menurut Raden, persoalan nelayan bukan hanya tingginya biaya operasional. Pemerataan bantuan alat tangkap juga dinilai belum menjangkau seluruh masyarakat yang membutuhkan.

“Tidak semua nelayan dapat bantuan, dulu ada bantuan mesin dan fiber, tapi tidak semua dapat, yang tidak dapat hanya terdiam. Jika mau pinjam sesama nelayan, hasil melautnya dipotong 10%,” kata Pak Raden.

Ketergantungan terhadap tengkulak dan pinjaman antarnelayan membuat ruang gerak ekonomi keluarga nelayan semakin terbatas.

Nelayan Mengaku Dihantui Perampasan di Laut

Di luar persoalan ekonomi, Raden mengungkapkan adanya dugaan aksi premanisme di laut yang menyasar nelayan. Pelaku disebut membawa senjata tajam dan merampas hasil tangkapan maupun barang-barang yang berada di dalam perahu.

“Terkadang ada preman di tengah laut itu, mereka bawa senjata tajam dan mengambil semua hasil tangkapan dan yang ada di perahu, bahkan mesin juga diambil,” ungkap Pak Raden.

error: