HUT BABAR 2026 (4X6)..
IMG-20260526-WA0000
Opini

Tindakan Represif: Apakah Masih Relevan di Lingkungan Pendidikan?

×

Tindakan Represif: Apakah Masih Relevan di Lingkungan Pendidikan?

Sebarkan artikel ini
Pelajar SMA di Bangka Barat. Foto: Rizki Ramadhani.
Pelajar SMA di Bangka Barat. Foto: Rizki Ramadhani.

Penulis: Cakra Satya Mahesa, Zakiah Faizah, Marsha Adeliany, SMA Negeri 1 Pangkalpinang

Pernahkah kita mendengar cerita siswa yang dihukum berjemur di bawah terik matahari, dipermalukan di depan teman-temannya, atau bahkan mengalami kekerasan fisik karena melanggar aturan sekolah? Praktik-praktik tersebut merupakan bentuk tindakan represif, yaitu tindakan yang diberikan setelah terjadinya pelanggaran dengan tujuan memberikan efek jera melalui hukuman, tekanan, atau pengekangan.

APPLY
Terdepan Menyorot Fakta.
Scroll kebawah untuk lihat konten

Selama bertahun-tahun, pendekatan represif dianggap sebagai cara yang efektif untuk menegakkan disiplin di lingkungan pendidikan. Namun, seiring perkembangan zaman dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap hak-hak anak, muncul pertanyaan penting: apakah pendekatan tersebut masih relevan diterapkan di sekolah saat ini?

Salah satu contoh yang pernah menjadi perhatian publik adalah kasus di SMAN 1 Cimarga. Seorang siswa dilaporkan mendapat perlakuan kasar dari kepala sekolah setelah kedapatan merokok di lingkungan sekolah. Peristiwa tersebut memicu aksi mogok belajar yang dilakukan oleh sejumlah siswa karena menganggap tindakan tersebut berlebihan.

Kasus tersebut menunjukkan bahwa penggunaan pendekatan represif yang tidak proporsional dapat menimbulkan dampak negatif. Alih-alih menyelesaikan masalah, tindakan tersebut justru berpotensi merusak hubungan antara guru dan siswa serta mengurangi rasa percaya siswa terhadap pihak sekolah.

Pada masa lalu, tindakan represif memang cukup umum diterapkan di lingkungan pendidikan. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, akses informasi yang masih terbatas membuat sekolah memiliki sedikit alternatif dalam menangani pelanggaran siswa.

Kedua, belum adanya jejak digital menyebabkan berbagai persoalan sering diselesaikan secara langsung tanpa pengawasan publik.

Selain itu, banyak pihak meyakini bahwa hukuman yang tegas merupakan cara paling ampuh untuk membentuk kedisiplinan. Di sisi lain, budaya malu yang kuat pada generasi sebelumnya membuat banyak siswa enggan menceritakan pengalaman yang mereka alami kepada orang tua maupun masyarakat luas.

Ilustrasi digitalisasi. Foto: Internet.
Opini

Era Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) menandai babak baru peradaban. AI tidak hanya mengubah cara manusia

Opini

Di tengah tekanan ekonomi dan naiknya kebutuhan hidup, persoalan pengelolaan keuangan kembali menjadi perhatian. Banyak orang

Ratusan masyarakat antusias mendapatkan sejumlah bahan pokok murah dalam operasi pasar, di Lapangan Gelora, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat, pada Kamis (22/02/2024) pagi.
Opini

Memasuki tahun baru 2026, kita dihadapkan pada tantangan serius meretas jalan terjal menuju Indonesia Emas 2045. Pembangunan manusia

error: