Penulis: Sepri Sumartono
Ketika sinar matahari terik membuat cuaca menjadi sangat panas. Saya yang merupakan seorang jurnalis buru-buru mencari warkop sebagai tempat ngadem.
Seperti biasa, warkop menjadi kantor ternyaman untuk jurnalis bekerja. Bisa memproduksi berita sambil ngobrol ringan dengan teman ngopi.
Siapa sangka, teman ngopi ini malah membuat cuaca menjadi lebih panas dari matahari. Tanpa ada niat, tiba-tiba dia memberikan tamparan psikologis.
Sebut saja nama dia Ari. Kita samarkan sedikit, karena kuat kemungkinan tamparan darinya membuat kebanyakan teman seprofesi yang membaca tulisan ini jadi sakit hati.
Awalnya, kami cuma ngomongin isu-isu ringan seperti acara seremonial pemerintahan, MBG, rupiah anjlok, antek-antek asing, hidup Jokowi dan film pesta babi.
Kemudian, sampai lah pada titik kami melihat status story WhatsApp milik teman di kabupaten lain. Status WhatsApp itu memosting foto orang-orang yang seprofesi dengan saya.
“Profesi yang sudah hina,” kata temanku tiba-tiba.
Mendengar itu, saya diam sejenak menahan sakit hati. Bisa-bisanya dia bilang begitu padahal sedang ngobrol dengan jurnalis.
“Ngape hina?” saya bertanya dengan nada kesal, padahal sebenarnya sudah tahu jawabannya.
Temanku ini heran, mengapa orang yang sudah tidak aktif menulis dan memproduksi berita masih disebut wartawan.
Ia tahu sebagian orang di foto itu tidak lagi aktif liputan, bahkan sudah sibuk menekuni bidang lain.
Sebenarnya ia heran saja, mengapa bisa begitu mudahnya orang disebut atau mengklaim dirinya wartawan.
Padahal, sebenarnya itu profesi yang sakral di dalam demokrasi, satu di antara pilarnya, bahkan.
Sakit hati saya mereda. Memang benar profesi ini sudah semakin tercemar. Jika direnungkan dengan kepala dingin, justru banyak noda yang sudah menumpuk.
Kira-kira sudah berapa banyak kabar yang kita dengar tentang wartawan yang membuat ulah. Kebanyakan di antara mereka adalah wartawan dadakan.
Sampai-sampai saya pernah mendengar celetukan dari seorang jurnalis senior yang menyebut “sekarang susah membedakan antara wartawan tua dan wartawan senior”.















