Maksudnya, sekarang banyak orang-orang yang sudah berusia 30-40an mendadak banting profesi menjadi wartawan. Tentu mereka lebih pantas disebut wartawan tua bukan wartawan senior.
Fenomena wartawan dadakan ini pada akhirnya membuat orang-orang memandang rendah profesi wartawan. Sebab, ulahnya yang sulit dianggap wajar.
Menjadi semakin dianggap remeh karena dianggap siapa saja bisa jadi wartawan. Bayangkan, buruh harian tiba-tiba jadi wartawan, pekerja tambang ilegal jadi wartawan, honorer pemda sampai penjual empek-empek.
Teman saya di kepolisian sampai kaget dan berkata “Siape die tu, la jadi wartawan ok, bukannya penjual empek-empek?”.
Meskipun bukan ditujukan kepada saya. Mendengarnya turut membuat emosi. Kok, semakin rendah derajat profesi yang saya cintai ini.
Padahal, saya dan teman-teman yang benar-benar menekuni dan mencintai profesi ini ditempa terlebih dahulu sebelum turun liputan ke lapangan.
Bahkan, ada beberapa perusahaan pers yang menerapkan sistem magang terlebih dahulu sebelum benar-benar diakui sebagai jurnalis yang siap bekerja.
Pelatihan liputan mulai dari teori sampai praktik yang dicecar oleh mentor selama berminggu-minggu bukan aktivitas yang mudah dilalui.
Hanya dengan satu fenomena, wartawan dadakan, menyebabkan profesi ini sampai dianggap sebelah mata.
Ya, kesimpulannya, tulisan ini sesungguhnya adalah curahan hati seorang jurnalis yang diejek temannya sendiri. Dari ejekan itu, saya dapat satu kalimat yang cukup pas sebagai penutup tulisan ini.
“Semua orang boleh jadi Jurnalis, tapi tidak semuanya pantas disebut Jurnalis,” demikian kata seorang Jurnalis yang diejek temannya sendiri.***















