<
BALEHO marhaban ya ramahdan 2026 ( 4 x 6)
BALEHO IMLEK 2026 ( 4 X 6)
Bangka Barat

Makna Tahun Kuda di Imlek 2026: Simbol Kekuatan dan Kerja Keras

×

Makna Tahun Kuda di Imlek 2026: Simbol Kekuatan dan Kerja Keras

Sebarkan artikel ini
Pembersihan peralatan ibadah di Kelenteng Kong Fuk Miau Mentok. Foto: Rizki Ramadhani.
Pembersihan peralatan ibadah di Kelenteng Kong Fuk Miau Mentok. Foto: Rizki Ramadhani.

BANGKA BARAT – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2026, Kelenteng Kong Fuk Miau yang berada di Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat mulai melakukan berbagai persiapan. Aktivitas pembersihan, penataan ornamen, hingga pengecekan fasilitas ibadah dilakukan secara bertahap untuk memastikan kelancaran perayaan umat Tionghoa.

Pantauan di lokasi, suasana kelenteng tampak mulai lebih hidup. Sejumlah relawan terlihat membersihkan area utama dan halaman, sementara ornamen khas Imlek mulai disiapkan untuk dipasang. Persiapan ini menjadi agenda rutin tahunan yang dilakukan jauh hari sebelum puncak perayaan.

APPLY
Sorotan Bangka - Terdepan Menyorot Fakta.
Scroll kebawah untuk lihat konten

Pengelola Kelenteng Kong Fuk Miau, Paularita, mengatakan hingga saat ini progres persiapan telah mencapai sekitar 30 persen. Menurutnya, secara umum tidak ada perubahan signifikan dibandingkan dengan persiapan Imlek pada tahun-tahun sebelumnya.

“Tahun ini persiapannya sudah 30 persenan dan tidak ada perbedaan yang berarti jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” ujar Paularita, Rabu (11/2/2026).

Imlek 2026 sendiri merupakan Tahun Kuda dalam penanggalan Tionghoa. Paularita menjelaskan, simbol kuda memiliki makna tersendiri yang diharapkan membawa dampak positif bagi masyarakat, khususnya di Bangka Barat.

“Tahun ini tahun kuda. Itu artinya panas, ya mudah-mudahan tidak ada bencana. Kemudian kuda itu kuat, mudah-mudahan masyarakat Bangka Barat kuat dalam bekerja dan mencari rejeki,” katanya.

Ia menambahkan, selain sebagai tempat ibadah, kelenteng juga menjadi ruang kebersamaan lintas budaya. Oleh karena itu, persiapan Imlek tidak hanya difokuskan pada ritual keagamaan, tetapi juga pada kenyamanan dan keamanan seluruh umat yang akan datang beribadah.

Dengan persiapan yang terus dimatangkan, Kelenteng Kong Fuk Miau Mentok diharapkan siap menyambut Imlek 2026 dengan suasana yang khidmat, aman, dan penuh harapan baru bagi masyarakat Bangka Barat.

Warga Parittiga diserang Buaya. Foto: Istimewa.
Bangka Barat

Warga Bangka Barat Diserang Buaya, Polisi Minta Warga Waspada di Kolong Eks Tambang

Seorang warga Desa Sekar Biru, Kecamatan Parittiga, Kabupaten Bangka Barat, diserang seekor buaya saat melintas di pinggir kolong bekas tambang, Selasa (10/2/2026) dini hari.

Peristiwa ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat agar lebih waspada terhadap potensi ancaman satwa liar di sekitar permukiman.

Korban diketahui bernama Karmin (49), warga Dusun Perumnas, Desa Sekar Biru. Ia diserang buaya sekitar pukul 02.50 WIB saat berjalan tidak jauh dari rumahnya.

“Buaya tersebut sudah berada di darat dan langsung menggigit kaki korban. Beruntung korban berhasil melawan menggunakan kayu hingga terlepas, lalu menyelamatkan diri,” kata Kasi Humas Polres Bangka Barat Iptu Yos Sudarso, Selasa.

Akibat kejadian itu, korban mengalami luka pada bagian kaki. Sekitar pukul 03.00 WIB, korban menghubungi petugas Polsek Jebus untuk meminta pertolongan. Polisi yang tiba di lokasi tidak lagi menemukan buaya tersebut dan langsung mengevakuasi korban ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan medis.

“Korban telah mendapatkan penanganan medis dan saat ini sudah kembali ke rumah,” ujar Yos.

Polisi menilai kejadian ini menunjukkan bahwa buaya di kolong bekas tambang tersebut berpotensi masuk ke wilayah permukiman warga dan menimbulkan ancaman serius jika tidak segera ditangani.

Polisi Ambil Langkah Antisipasi
Menindaklanjuti peristiwa tersebut, Kapolres Bangka Barat AKBP Pradana Aditya Nugraha, S.H., S.I.K., melalui Kasi Humas, menyatakan pihaknya telah menginstruksikan jajaran untuk mengambil langkah cepat dan terukur.

“Polres Bangka Barat langsung memberikan arahan kepada para Kapolsek jajaran agar melakukan pemetaan lokasi rawan serangan satwa liar, memasang spanduk peringatan, serta memberikan imbauan langsung kepada masyarakat,” tegas Yos.

Selain itu, Polres Bangka Barat juga mendorong pemerintah desa untuk segera berkoordinasi dengan BKSDA dan DLHK Kabupaten Bangka Barat guna menangkap dan memindahkan buaya ke tempat penangkaran, demi mencegah kejadian serupa terulang.

Kasat Polair dan Polsek jajaran juga diminta aktif melakukan pemantauan di wilayah perairan dan kolong eks tambang yang berdekatan dengan pemukiman.
Imbauan Kepada Masyarakat
Polres Bangka Barat mengimbau masyarakat agar

Tidak beraktivitas di sekitar kolong eks tambang, terutama pada malam dan dini hari;
Tidak mandi, mencuci, atau memancing di lokasi yang berpotensi menjadi habitat buaya;
Segera melapor kepada pihak kepolisian jika melihat keberadaan buaya atau satwa liar berbahaya lainnya.

“Keselamatan warga adalah prioritas. Kami mengajak masyarakat untuk lebih waspada dan tidak menganggap remeh potensi bahaya dari satwa liar,” pungkas Yos.

error: