Opini

Dari Romusha ke Royalti Timah: Babel Masih Menanggung Beban Eksploitasi Negara

47
×

Dari Romusha ke Royalti Timah: Babel Masih Menanggung Beban Eksploitasi Negara

Sebarkan artikel ini
Aktivitas tambang timah ilegal. Foto: Rizki Ramadhani
Aktivitas tambang timah ilegal. Foto: Rizki Ramadhani

Kekerasan fisik yang dahulu bersifat kasat mata kini berubah menjadi kekerasan struktural. Paksaan tidak lagi dilakukan secara langsung, melainkan dilegitimasi melalui regulasi dan kebijakan fiskal yang timpang antara pusat dan daerah.

Situasi tersebut memperkuat argumentasi perlunya penguatan kewenangan daerah, termasuk melalui skema Otonomi Khusus (Otsus).

APPLY
Sorotan Bangka - Terdepan Menyorot Fakta.
Scroll kebawah untuk lihat konten

Gagasan Otsus dinilai bukan sebagai reaksi emosional, melainkan respons rasional atas kegagalan kebijakan nasional dalam menghadirkan keadilan fiskal yang substantif bagi daerah penghasil sumber daya alam.

Otonomi Khusus dipandang sebagai instrumen korektif untuk memulihkan kedaulatan ekonomi daerah. Dalam desain desentralisasi yang belum sepenuhnya adil, Otsus menjadi jalan untuk memutus mata rantai eksploitasi yang secara historis terus berulang: daerah berkorban, pusat menikmati hasil.

Apabila royalti timah tidak juga direalisasikan dan upaya politik daerah tidak membuahkan hasil, maka yang terjadi sesungguhnya adalah pengulangan sejarah dalam bentuk baru.

Daerah tidak lagi dipaksa mengangkut beban fisik, tetapi dipaksa menanggung kerusakan jangka panjang tanpa kompensasi yang memadai.

Polemik royalti timah Bangka Belitung menjadi cermin bahwa praktik eksploitasi tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya beradaptasi dengan bahasa kebijakan modern.

Selama ketimpangan fiskal ini terus dinormalisasi, maka demokrasi dan desentralisasi berisiko hanya menjadi slogan, sementara daerah penghasil tetap memikul beban eksploitasi dengan wajah yang berbeda.

Opini

Di tengah tekanan ekonomi dan naiknya kebutuhan hidup, persoalan pengelolaan keuangan kembali menjadi perhatian. Banyak orang

Ratusan masyarakat antusias mendapatkan sejumlah bahan pokok murah dalam operasi pasar, di Lapangan Gelora, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat, pada Kamis (22/02/2024) pagi.
Opini

Memasuki tahun baru 2026, kita dihadapkan pada tantangan serius meretas jalan terjal menuju Indonesia Emas 2045. Pembangunan manusia

error: