Sementara pada September 2026, sebanyak 169 ZOM atau 25,41 persen luas daratan Indonesia diprediksi memasuki puncak kemarau. Kepulauan Bangka Belitung termasuk wilayah yang masuk dalam periode tersebut.
Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang
Tak hanya datang lebih awal, musim kemarau 2026 juga diperkirakan berlangsung lebih panjang di sejumlah wilayah Indonesia.
BMKG memperkirakan sebanyak 437 ZOM atau 48,77 persen luas daratan Indonesia mengalami musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan kondisi normal periode 1991-2020.
Sebanyak 70 ZOM atau 8,32 persen diprediksi memiliki durasi musim kemarau yang sama dengan normal. Sedangkan 79 ZOM atau 9,23 persen wilayah diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih pendek.
Wilayah yang berpotensi mengalami kemarau lebih panjang dari kondisi normal meliputi Sumatera bagian utara dan selatan, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua.
Awal Kemarau 2026 Datang Lebih Cepat
Dalam pemutakhiran prediksinya, BMKG juga menyebut awal musim kemarau 2026 secara umum datang lebih awal dibandingkan kondisi normal periode 1991-2020.
Sebanyak 308 ZOM yang mencakup sekitar 39,77 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mengalami awal musim kemarau lebih maju dari biasanya.
Kemudian 165 ZOM atau 17,03 persen diprediksi memasuki musim kemarau sesuai kondisi normal. Sementara 113 ZOM atau 9,52 persen diperkirakan mengalami awal musim kemarau lebih lambat.
Curah hujan sepanjang musim kemarau 2026 juga diprakirakan secara umum berada pada kategori bawah normal. Artinya, sejumlah wilayah berpotensi mengalami kondisi yang lebih kering dibandingkan biasanya.
Warga Babel Diminta Waspada Karhutla
Dengan Bangka Belitung diprediksi memasuki puncak musim kemarau pada September 2026, masyarakat perlu mengantisipasi dampak cuaca kering, terutama terkait ketersediaan air dan potensi kebakaran hutan serta lahan.
















