Opini

Lebih Besar Pasak dari Tiang

43
×

Lebih Besar Pasak dari Tiang

Sebarkan artikel ini
Ribuan masyarakat mendatangi DPRD Bangka Barat menolak kehadiran HTI. Foto: Rizki Ramadhani.

GAYA HIDUP – Di tengah tekanan ekonomi dan naiknya kebutuhan hidup, persoalan pengelolaan keuangan kembali menjadi perhatian. Banyak orang menghadapi kesulitan bukan karena kurang penghasilan, melainkan akibat pola belanja yang tidak seimbang. Dalam konteks inilah, peribahasa besar pasak daripada tiang kembali relevan sebagai pengingat penting dalam kehidupan sehari-hari.

Ungkapan tersebut menggambarkan kondisi ketika pengeluaran lebih besar dibandingkan pemasukan. Situasi ini kerap terjadi tanpa disadari, terutama ketika seseorang terbiasa mengikuti gaya hidup konsumtif. Akibatnya, pendapatan yang seharusnya cukup justru terasa selalu kurang.

Secara harfiah, peribahasa besar pasak daripada tiang berasal dari gambaran konstruksi bangunan tradisional. Tiang berfungsi sebagai penopang utama yang menjaga bangunan tetap berdiri kokoh. Sementara itu, pasak hanya berperan sebagai pengikat atau pelengkap.

Dalam konstruksi, pasak yang lebih besar dari tiang tentu menandakan ketidakwajaran dan berpotensi melemahkan struktur bangunan. Analogi inilah yang kemudian digunakan untuk menjelaskan kondisi keuangan yang tidak sehat.

Dalam pengelolaan keuangan, tiang diibaratkan sebagai pemasukan atau pendapatan tetap yang dimiliki seseorang. Pendapatan ini menjadi dasar dalam memenuhi seluruh kebutuhan hidup. Tanpa pemasukan yang kuat, kestabilan finansial akan sulit tercapai.

Sementara itu, pasak menggambarkan pengeluaran yang mencakup kebutuhan harian, tagihan, hingga gaya hidup. Pengeluaran seharusnya disesuaikan dengan kemampuan pemasukan agar keuangan tetap seimbang dan terkendali.

Ketika pengeluaran terus meningkat dan melampaui pendapatan, kondisi keuangan perlahan menjadi rapuh. Seseorang akan kesulitan memenuhi kebutuhan, bahkan untuk hal-hal yang bersifat mendesak. Situasi ini sering berujung pada ketergantungan terhadap utang.

Di era modern, godaan konsumtif semakin besar seiring kemudahan akses belanja dan pinjaman. Banyak orang terjebak menggunakan kartu kredit atau pinjaman online untuk memenuhi keinginan, bukan kebutuhan. Padahal, langkah tersebut justru memperparah tekanan keuangan.

Ratusan masyarakat antusias mendapatkan sejumlah bahan pokok murah dalam operasi pasar, di Lapangan Gelora, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat, pada Kamis (22/02/2024) pagi.
Opini

Memasuki tahun baru 2026, kita dihadapkan pada tantangan serius meretas jalan terjal menuju Indonesia Emas 2045. Pembangunan manusia

error: